Memahami Peran Seorang Pemimpin


Image

Suatu hari, salah seorang sahabat saya bertanya, “Ga, memangnya kualitas seseorang itu ditentukan dari seberapa tinggi jabatan orang tersebut ya?”

Dan jawaban saya adalah, “Tergantung. Ya, semuanya berhubungan dengan dimana kamu berada dan seperti apa paradigma orang-orang yang ada di dalamnya terkait hal itu? Karena hal itu pun akhirnya tergantung dengan sistem yang berlaku di dalamnya?”

Saya yakin, pasti sahabat saya itu langsung bingung ketika mendapatkan jawaban saya itu. Akhirnya, saya pun berkewajiban menjelaskannya dengan lebih sederhana lagi. Dan lagi-lagi, jawaban saya selalu tergantung atau relatif. Karena toh di dunia ini apalagi yang absolut selain realita dan perangkat-perangkat dari takdirNya?

Sahabat, mungkin tak sedikit yang berpendapat bahwa orang yang menjadi pemimpin nomor satu di sebuah lembaga adalah orang yang paling hebat di antara yang lain. Atau pemimpin di sebuah perusahaan besar, siapa pula yang tidak menganggapnya sebagai orang yang luar biasa? Pasti semua sepakat bahwa mereka adalah orang-orang pilihan yang memiliki kapasitas lebih, salah satunya tentu dalam memimpin ketimbang yang lainnya. Minimal mereka telah berani menghadapi resiko dalam menjalani perjalanan kepemimpinan itu sendiri. Bahkan di saat yang lainnya hanya berani untuk memandang dan mengamati, atau tak siap menghadapi serba-serbi tantangan yang akan ditemui ketika nantinya menjabat bidang tertentu di sebuah struktur.

Pandangan bahwa kualitas seseorang itu ditentukan oleh jabatan atau hal-hal struktural yang ada, bukanlah jawaban yang salah. Namun, saya pribadi berpendapat bahwa bukan hanya itu satu-satunya jawaban. Misalnya, kalau kita ingin memfokuskan permasalahan ini pada kepemimpinan sebagai standar kualitas tertinggi seorang manusia, maka pertama-pertama kita pun harus kembali pada makna kepemimpinan atau pemimpin itu terlebih dahulu.

Kepemimpinan dan Pemimpin merupakan dua hal yang tidak sama.

Pertama, tentang kepemimpinan yang dapat diartikan sebagai kemampuan pemimpin, gaya dalam memimpin, atau dinamika saling mempengaruhi yang terjadi dalam kelompok dimana kelompok ‘memimpin’ dirinya sendiri melalui aturan-aturan yang dibuatnya. Pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) pun kita akan menemukan “n perihal pemimpin; cara memimpin: mahasiswa tetap mendukung cara ~ nasional Presiden” untuk kata kepemimpinan.

Kedua, pemimpin. Kembali berpedoman pada KBBI bahwa pemimpin ialah orang yg memimpin: ia ditunjuk menjadi ~ organisasi itu; 2 petunjuk; buku petunjuk (pedoman): buku ~ montir mobil;~ produksi produser. Jika ditinjau lebih jauh lagi, kita akan menemukan hakikat dari pemimpin itu sendiri. Pemimpin bukanlah ketua atau atasan, sehingga nantinya yang tidak memimpin bukanlah pemimpin. Bukan itu. Setiap orang mungkin saja mendapatkan “pimpinan” dari lebih satu orang. Pemimpin adalah orang yang mampu mempengaruhi dan menjadi rujukan atau pedoman bagi orang yang ingin dipimpinnya.

Melihat kedua penjabaran definisi tersebut, maka kita akan kembali diingatkan bahwa pemimpin bukanlah status, akan tetapi ia adalah peran dan siapapun dapat melakukannya meskipun dia tidak menjadi seorang ketua di dalam struktur manapun. Jadi, jika standar yang kita gunakan adalah kepemimpinan atau pemimpin tadi, maka jawabannya adalah seseorang dapat dikatakan berkualitas jika ia memiliki kemampuan mempengaruhi atau menjadi pedoman yang berkualitas pula. Sekali lagi, meskipun dia tidak menjabat sebagai ketua atau atasan di organisasi atau lembaga manapun.

Lalu pertanyaan selanjutnya, apakah salah jika kita menjadi ketua di suatu lembaga tertentu? Jawabannya tentu tidak, akan tetapi rasanya tidak perlu jika hal itu dijadikan sebagai bagian dari ambisi yang harus kita kejar. Bukankah yang perlu kita kejar adalah kualitas itu tadi? Jadi, idealnya yang harus menjadi fokus kita adalah kemampuan dalam memimpin. Hal ini berarti, semakin hari kemampuan kepemimpinan kita terus meningkat dan semakin baik agar kita bisa berperan lebih dalam setiap kesempatan apapun. Lambat laun, akan banyak mata yang memandang dan mengakui kualitas pada diri kita. Dan semua pasti percaya bahwa pada dasarnya setiap orang atau manusia itu adalah pemimpin. Minimal, pemimpin bagi dirinya sendiri.

Ada sebuah cerita yang saya rasa bisa kita gunakan sebagai contoh untuk menggambarkan hal-hal yang ada di dalam pembahasan ini. Anggaplah tokoh dalam cerita tersebut adalah Tio dan Rio. Keduanya merupakan teman dekat dan turut aktif di sebuah organisasi kampus yang sama. Di suatu masa kepengurusan, Tio mengajukan diri menjadi ketua di lembaga tersebut dan akhirnya dipercaya oleh seluruh anggota di dalam organisasi tersebut untuk menjadi ketua selama waktu kepengurusan tertentu. Di lain sisi, Rio yang merupakan teman dekat Tio, pada akhirnya hanya menjabat sebagai ketua di salah satu bidang saja. Tentunya jelas bahwa pada kondisi ini Tio merupakan atasan Rio di dalam organisasi tersebut.

Seiring berjalannya waktu. Rupanya di belakang layar, diam-diam Tio sangat mempercayai Rio teman dekatnya itu. Setiap kali Tio akan menetapkan sebuah keputusan di organisasinya, maka sebelumnya Tio akan mengajak Rio untuk berdiskusi dan meminta saran atau masukan darinya. Jadilah, kebanyakan dari keputusan yang ada di organisasi tersebut merupakan bagian dari hasil diskusi Tio dengan Rio. Sedangkan, terkait hal itu Rio tidak jadi angkuh dan tak memberitahukannya kepada siapapun. Rio hanya fokus dengan tugas dan kewajibannya. Nah dalam cerita tersebut, siapakah kiranya yang merupakan pemimpin? Tio atau Rio? Untuk menjawabnya, mari kita kembali kepada makna pemimpin dan kepemimpinan yang telah kita bahas sebelumnya. Pemimpin itu bukanlah status, namun ia adalah peran.

Kemudian, bagaimana jika seseorang diminta untuk memimpin suatu organisasi, kelompok, atau komunitas tertentu? Kalau memang di saat itu semua harapan tertuju pada kita, maka lakukan saja. Amanah tak akan pernah salah dalam memilih pengembannya. Hanya saja, terkadang rasanya ada saja yang salah. Bisa jadi itu berarti bahwa diri sang pengemban amanah tersebut justru alpa dan lalai. Status yang dipercayakan bagi diri kita adalah sebuah hal yang hakikatnya merupakan sebuah ujian bagi kita untuk membuktikan sejauh mana kita bisa mempertahankan bahkan meningkatkan kualitas diri kita. Sehingga, amatlah penting jika kita terus berusaha memimpin diri kita, yaitu dengan akhlak yang baik untuk senantiasa menjaga kepercayaan dan amanah yang disandangkan di dalam diri. Selain itu, bukankah ketika ujian itu datang, hal ini menandakan bahwa kita akan menghadapi derajat yang lebih tinggi lagi? Bukan sekedar derajat duniawi, akan tetapi derajat di hadapan Rabb semesta alam.

Wallahua’lam.

 
 
Advertisements

Renungan Kehidupan Setelah Kematian


Image

Setiap jiwa pasti akan menemui ajalnya. Tiada setiap jiwa pun yang kekal abadi hidup di dunia. Bila ajal telah tiba tak ada yang bisa menghindar dan lari darinya.
Bukan berarti telah berakhir sampai disini. Tetapi telah berpindah ke alam berikutnya, yaitu alam kubur atau alam barzakh, yang termasuk bagian dari beriman kepada hari akhir.
Setiap yang telah memasuki alam kubur maka akan mengalami fitnah kubur.
Yaitu ujian berupa pertanyaan dua malaikat kepada si mayit, tentang Rabbnya, agamanya dan Nabinya.

Dari ujian ini akan diketahui apakah dia termasuk hamba-Nya yang jujur keimanannya sehingga berhak mendapatkan nikmat kubur, atau apakah dia termasuk yang dusta keimanannya sehingga berhak mendapakan adzab kubur.
Ini merupakan aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah yang wajib setiap mu’min untuk meyakini kebenaran adanya fitnah kubur, nikmat kubur dan adzab kubur.

Termasuk konsekuensi dari beriman kepada Allah Ta’ala dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam adalah meyakini kebenaran apa yang dikhabarkan di dalam Al Qur’an dan As Sunnah tentang kejadian-kejadian di alam ghaib.
Di awal-awal ayat Al Qur’an Allah Ta’ala mengkhabarkan ciri orang-orang yang mendapatkan hidayah dan keberuntungan di dunia dan di akhirat, diantaranya adalah orang yang beriman tentang perkara ghaib.

Allah Ta’ala berfirman (artinya):
“Orang-orang yang beriman kepada yang ghaib, menunaikan shalat dan menginfaqkan sebagian yang Kami anugerahkan kepada mereka.

Dan mereka pula beriman kepada apa yang diturunkan kepada mereka (Al Qur’an) dan kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya, serta mereka yakin akan adanya kehidupan akhirat.
Mereka itulah yang mendapat petunjuk dari Rabb mereka dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (Al Baqarah: 3-5)

Dalil – Dalil Tentang Fitnah Kubur

Dalil-dalil yang menunjukan adanya fitnah kubur, diantaranya;
Dalam Al Qur’an firman Allah:

يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ وَيُضِلُّ اللَّهُ الظَّالِمِينَ وَيَفْعَلُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ

“Allah meneguhkan dengan al qauluts tsabit kepada orang-orang yang beriman dalam kehidupan di dunia dan di akhirat.” (Ibrahim: 27)

Di dalam ayat di atas menetapkan akan adanya fitnah kubur. Karena Allah Ta’ala memberikan kemulian kepada orang-orang yang benar-benar beriman dengan diteguhkannya al qaulul tsabit. Yaitu keteguhan iman si mayit di alam kubur ketika ditanya oleh dua malaikat.
Sebagaimana hadits dari shahabat Al Barra’ bin ‘Azib bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam bersabda:

إِذَا أُقْعِِدَ الْمُؤْمِنُ فِي قَبْرِهِ أُتِيَ ثُمَّ شَهِدَ أَنْ لاَ إِله إِلاَّ اللهُ وَ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ فَذَالِكَ قَوْلُهُ تَعَالَى : يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ

“Jika seorang mu’min telah didudukkan di dalam kuburnya kemudian didatangi (dua malaikat dan bertanya kepadanya) maka dia akan (menjawab) dengan mengucapkan dua kalimat syahadat:

أَنْ لاَ إِله إِلاَّ اللهُ وَ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ

Itulah al qauluts tsabit sebagaimana yang tertera dalam firman Allah Ta’ala di atas.” (H.R. Al Bukhari no. 1379 dan Muslim no. 2871)

Ayat di atas juga sebagai dalil bahwa peristiwa fitnah kubur ini merupakan bagian dari hari akhir. Karena Allah Ta’ala menyebutkan peristiwa fitnah kubur ini dengan lafadz “wafil akhirah” yaitu di hari akhir.

Demikian pula dari As Sunnah,

Dari shahabat Al Barra’ bin ‘Azib yang diriwayatkan oleh Abu Dawud 2/281, Ahmad 4/287 dan selain keduanya, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam mengisahkan peristiwa fitnah kubur yang akan dialami oleh orang mu’min dan orang kafir.

Keadaan orang mu’min ketika ditanya oleh dua malaikat, maka dia akan dikokohkan jawabannya oleh Allah.

Siapakah Rabb-mu? Dia akan bisa menjawab: Rabb-ku adalah Allah.
Apa agamamu? Dia akan bisa menjawab: Agamaku adalah Islam.

Siapakah laki-laki ini yang diutus kepadamu? Dia pun bisa menjawab: Dia adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam (Demikianlah Allah Ta’ala pasti memenuhi janji-Nya sebagaimana dalam Q.S. Ibrahim: 27 di atas).

Sebaliknya keadaan orang kafir ketika ditanya oleh dua malaikat, maka dia tidak akan bisa menjawab.
Siapakah Rabb-mu? Dia akan menjawab: Hah, hah, saya tidak tahu.

Apa agamamu? Dia akan menjawab: Hah, hah, saya tidak tahu.

Lalu siapakah laki-laki ini yang diutus kepadamu? Dia pun akan menjawab: Hah, hah, saya tidak tahu.

Demikian pula hadits dari Ummul Mu’minin Aisyah, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam bersabda:

فَأُوحِيَ إِلَيَّ أَنَّكُمْ تُفْتَنُوْنَ فِي قُبُورِكُمْ مِثْلُ أَوْ قَرِيْبٌ مِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيْحِ الدَّجَّالِ

“Telah diwahyukan kepadaku sungguh akan ditimpakan fitnah kepada kalian di dalam kubur-kubur kalian seperti atau hampir mirip dengan fitnah Al Masih Ad Dajjal.” (H.R. Al Bukhari no. 87 dan Muslim no. 905)

Padahal fitnah Al Masih Ad Dajjal merupakan fitnah terbesar dari fitnah-fitnah yang terjadi sejak diciptakan Adam sampai hari kiamat nanti. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam bersabda:

مَا بَيْنَ خَلْقِ آدَمَ إِلَى قِيَامِ السَّاعَةِ أَمْرٌ أكْبَرُ مِنَ الدَّجَّالِ

“Tidak ada fitnah yang paling besar sejak diciptakan Adam sampai hari kiamat dibanding dengan fitnah Dajjal.” (Muslim no. 2946)

Sehingga fitnah kubur itu pun amat ngeri seperti atau hampir mirip dengan fitnah Dajjal, kecuali bagi orang-orang yang jujur keimanannya. Oleh karena itu bila si mayit telah dikuburkan maka dianjurkan bagi kita untuk mendo’akannya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam bersabda:

اسْتَغْفِرُوا لأَخِيْكُمْ وَاسْأَلُوا لَهُ التَثْبِيْتَ فَإِنَّهُ الآنَ يُسْئَلُ

“Mohonkan ampunan untuk saudaramu, dan mohonkan untuknya keteguhan (iman), karena sesungguhnya dia sekarang sedang ditanya.” (Shahihul Jami’ no. 476)

Adapun nama dua malaikat tersebut adalah malaikat Munkar dan Nakir, sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh At Tirmidzi no. 1071, Ibnu Hibban no. 780 dan selain keduanya dari shahabat Abu Hurairah. Hadits ini dishahihkan oleh Asy Syaikh Al Albani dalam Ash Shahihah no. 1391.

Dalil – Dalil Adzab Kubur Dan Nikmat Kubur

Setelah mengalami proses fitnah kubur, maka akan mengalami proses berikutnya, yaitu proses nikmat kubur dan adzab kubur. Bila dia selamat dalam fitnah kubur maka dia akan mendapatkan nikmat kubur dan sebaliknya bila ia tidak selamat dalam fitnah tersebut maka dia akan mendapatkan adzab kubur.

Para pembaca, proses ini pun merupakan perkara ghaib yang harus diyakini kebenarannya. Karena Allah Ta’ala dan Rasul-Nya telah mengkhabarkan peristiwa ini di dalam Al Qur’anul Karim dan As Sunnah An Nabawiyyah.

Di antara dalil dalam Al Qur’an yaitu firman Allah Ta’ala (artinya):

“…, Alangkahnya dahsyatnya sekiranya kamu melihat diwaktu orang zhalim (kafir) berada dalam tekanan-tekanan sakaratul maut sedang para malaikat memukul dengan tangan mereka, sambil berkata: ‘Keluarkanlah nyawamu.’ Pada hari ini (sekarang ini, sejak sakaratul maut) kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan. Karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah dengan perkataan yang tidak benar dan selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya.” (Al An’am: 93)

Berkata Asy Syaikh Abdurrahman As Sa’di dalam kitab tafsirnya Taisirul Karimir Rahman:

“Ayat ini sebagai dalil tentang adanya adzab di alam barzakh dan kenikmatan di dalamnya. Dan adzab yang diarahkan kepada mereka dalam konteks ayat ini terjadi sejak sakaratul maut, menjelang mati dan sesudah mati.”

Dalam Q.S. Ghafir ayat ke 46 Allah Ta’ala berfirman (artinya):

“(Salah satu bentuk azdab di alam barzakh nanti) Neraka akan ditampakkan di waktu pagi dan petang kepada Fir’aun dan para pengikutnya. Kemudian pada hari kiamat (dikatakan kepada malaikat): Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam adzab yang sangat keras.”

Berkata Al Imam Ibnu Katsir Asy Syafi’i:

“Ayat di atas merupakan landasan utama yang dijadikan dalil bagi aqidah Ahlus Sunnah tentang adanya adzab di alam kubur.” (Lihat Al Mishbahul Munir)

Adapun dalil dari As Sunnah, diantaranya; hadits dari Al Barra’ bin ‘Azib, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam bersabda:

اسْتَعِيْذُوا بِاللهِ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ

“Mohonlah perlindungan kepada Allah dari adzab kubur (diulangi sampai 2/3 kali).” Kemudian Rasululah berdo’a:

اللهُمَّ إِنِّي أَعُوذُبِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ

“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon perlindungan kepada-Mu dari adzab kubur (sampai 3 kali).”

Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam menggambarkan keadaan orang mu’min dengan dibentangkan tikar dari al jannah, dikenakan pakaian dari al jannah dan dibukakan pintu baginya ke arah al jannah yang mendatangkan aroma harum, serta diperluas tempatnya di alam kubur seluas mata memandang.

Sebaliknya keadaan orang kafir, maka dibentangkan baginya tikar dari neraka, dibukakan pintu yang mengarah ke neraka yang mendatangkan panas dan aroma busuk, serta disempitkan tempatnya di alam kubur sampai tulang belulangnya saling merangsek. (H.R. Abu Dawud 2/281 dan lainnya)

Dalam riwayat Al Imam Ahmad 6/81 Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam bersabda:

اسْتَعِيْذُوا بِاللهِ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ فَإِنَّ عَذَابَ الْقَبْرِ حَقٌّ

“Mohonlah perlindungan kepada Allah dari adzab kubur, karena sesungguhnya adzab kubur itu adalah benar adanya.”

Dalam hadits Ibnu Abbas, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam pernah melewati dua kuburan. Kemudian beliau bersabda:

أَمَا إِنَّهُمَا لَيُعَذَّبَانِ وَمَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيْرٍ أَمَّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ يَمْشِي بِالنَّمِيْمَةِ وَأَمَّا الآخَرُ فكَانَ لاَ يَسْتَنْزِهُ مِنْ بَوْلِهِ

“Kedua penghuni ini sungguh sedang mendapat adzab. Dan tidaklah keduanya diadzab karena melakukan dosa besar. Adapun salah satunya karena berbuat namimah (adu domba) dan yang kedua karena tidak membersihkan air kecingnya.” (H.R. Muslim no. 292)

Demikian pula do’a yang ditekankan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam sebelum salam ketika shalat:

اللهُمَّ إِنِّي أَعُوذُبِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَ الْمَمَاتِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيْحِ الدَّجَّالِ

“Ya Allah, aku memohon perlindungan kepada-Mu dari adzab jahannam, dari adzab kubur, dan dari fitnah selama hidup dan sesudah mati, serta dari fitnah Al Masih Ad Dajjal.” (H.R. Muslim dan selainnya, lihat Al Irwa’ no. 350)

Apakah adzab kubur dan nikmat kubur itu terus menerus?

Adapun adzab kubur bagi orang kafir adalah terus menerus sampai datangnya hari kiamat.

Sedangkan bagi orang mu’min yang bermaksiat, bila Allah Ta’ala telah memutuskannya untuk mengadzabnya maka tergantung dengan dosa-dosanya. Mungkin dia diadzab terus menerus dan juga mungkin tidak terus menerus, mungkin lama dan mungkin juga tidak lama, tergantung dengan rahmat dan ampunan dari Allah.

Mungkin pula orang mu’min yang bermaksiat tadi diputuskan tidak mendapat adzab sama sekali dengan rahmat dan maghfirah Allah. Semoga kita diselamatkan oleh Allah Ta’ala dalam fitnah kubur dan dari adzab kubur.

Para pembaca, semua peristiwa yang terjadi di alam kubur itu merupakan perkara ghaib yang tidak bisa dinilai kebenarannya dengan logika, analisa dan eksperimen. Bahkan semua peristiwa di alam kubur itu amatlah mudah bagi Allah.

Karena Allah Ta’ala memilki nama Al Qadir Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Sehingga peristiwa di alam kubur harus dinilai dan ditimbang dengan nilai dan timbangan iman. Karena ini adalah perkara yang ghaib yang tidak bisa dijangkau oleh kemampuan akal dan logika manusia. Karena ini adalah perkara yang ghaib yang tidak bisa dijangkau oleh kemampuan akal dan logika manusia.

Sehingga bila ada manusia yang mati tenggelam dilaut yang badannya hancur dimakan ikan laut, atau manusia yang mati terbakar sampai menjadi abu sangatlah mudah bagi Allah Ta’ala untuk mengembalikannya.

Marilah kita perhatikan firman Allah Ta’ala (artinya):

“Dan kami (malaikat) lebih dekat kepadanya (nyawa) dari pada kalian. Tetapi kalian tidak bisa melihat kami.” (Al Waqi’ah: 85)

Ketika malaikat hendak mencabut nyawa seseorang, sesungguhnya malaikat tersebut ada disebelahnya tetapi ia tidak bisa dilihat oleh mata kepalanya.
Demikianlah kekuasaan dan kagungan Allah Ta’ala yang tidak tidak bisa diukur dengan logika manusia.

 
 

Beberapa Alasan kebenaran tersembunyi


Image
Kenapa mereka begitu semangat menyembunyikan kebenaran?

Ada beberapa perkara yang mendorong mereka untuk menyembunyikan kebenaran yang telah mereka ketahui.
Pertama: Mengikuti hawa nafsu.

وَلَقَدْ آتَيْنَا مُوسَى الْكِتَابَ وَقَفَّيْنَا مِنْ بَعْدِهِ بِالرُّسُلِ وَآتَيْنَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ الْبَيِّنَاتِ وَأَيَّدْنَاهُ بِرُوحِ الْقُدُسِ أَفَكُلَّمَا جَاءَكُمْ رَسُولٌ بِمَا لاَ تَهْوَى أَنْفُسُكُمُ اسْتَكْبَرْتُمْ فَفَرِيقًا كَذَّبْتُمْ وَفَرِيقًا تَقْتُلُونَ

“Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan Al-Kitab (Taurat) kepada Musa, dan Kami telah menyusulinya (berturut-turut) setelah itu dengan rasul-rasul. Dan telah Kami berikan bukti-bukti kebenaran (mukjizat) kepada ‘Isa putra Maryam dan Kami memperkuatnya dengan Ruhul Qudus. Apakah setiap datang kepadamu seorang rasul membawa sesuatu (pelajaran) yang tidak sesuai dengan keinginanmu lalu kamu menyombong, maka beberapa orang (di antara mereka) kamu dustakan dan beberapa orang (yang lain) kamu bunuh?” (Al-Baqarah: 87)

لَقَدْ أَخَذْنَا مِيثَاقَ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَأَرْسَلْنَا إِلَيْهِمْ رُسُلاً كُلَّمَا جَاءَهُمْ رَسُولٌ بِمَا لاَ تَهْوَى أَنْفُسُهُمْ فَرِيقًا كَذَّبُوا وَفَرِيقًا يَقْتُلُونَ

“Sesungguhnya Kami telah mengambil perjanjian dari Bani Israil dan telah Kami utus rasul-rasul kepada mereka. Tetapi setiap datang seorang rasul kepada mereka membawa apa yang tidak diingini oleh hawa nafsu mereka, (maka) sebagian dari rasul-rasul itu mereka dustakan dan sebagian yang lain mereka bunuh.” (Al-Ma`idah: 70)

Kedua: Mencari maslahat dunia.

مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لاَ يُبْخَسُونَ. أُولَئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي اْلآخِرَةِ إِلاَّ النَّارُ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya kami berikan kepada mereka balasan perbuatan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan.

Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia serta sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.” (Hud: 15-16)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

تَعِسَ عَبْدُ الدِّيْنَارِ، تَعِسَ عَبْدُ الدِرْهَمِ، تَعِسَ عَبْدُ الْخَمِيْصَةِ، تَعِسَ عَبْدُ الْخَمِيْلَةِ، إِنْ أُعْطِيَ رَضِيَ وَإِنْ لُمْ يُعْطَ سَخِطَ

“Celaka budak dinar, celaka budak dirham, celaka budak (pakaian) khamishah, celaka budak (pakaian) khamilah. Jika dia diberi dia ridha, dan jika tidak diberi dia benci/ marah.”4

Ketiga: Mencari ridha manusia.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنِ الْتَمَسَ رِضَا اللهِ بِسُخْطِ النَّاسِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ وَأَرْضَى عَنْهُ النَّاسَ، وَمَنِ الْتَمَسَ رِضَا النَّاسِ بِسُخْطِ اللهِ سَخِطَ اللهُ عَلَيْهِ وَأَسْخَطَ عَلَيْهِ النَّاسَ

“Barangsiapa mencari ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan kemurkaan manusia maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan meridhainya dan Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan manusia ridha kepadanya.

Dan barangsiapa mencari ridha manusia dengan kebencian Allah Subhanahu wa Ta’ala maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memurkainya serta menjadikan manusia murka kepadanya.”5

Ibnu Katsir rahimahullahu berkata:

“Mereka menyembunyikan kebenaran agar kedudukan yang mereka miliki tidak hilang, juga berbagai macam hadiah dan pemberian yang mereka peroleh dari bangsa Arab karena pengagungan bangsa Arab terhadap mereka.

Mereka takut -semoga Allah melaknat mereka- jika mereka menampakkan kebenaran yang mereka ketahui, maka (Nabi) akan diikuti banyak orang dan bangsa Arab meninggalkan mereka.

Itulah alasan mereka menyembunyikan kebenaran, yaitu agar apa yang mereka dapatkan tetap ada, padahal itu adalah imbalan yang sedikit. Akhirnya mereka melelang diri mereka dengannya.

Mereka tidak mau menerima petunjuk, mengikuti kebenaran, membenarkan Rasul dan beriman dengan apa yang dibawanya dari sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mereka tukar dengan imbalan yang sedikit. Sungguh mereka telah celaka dan merugi di dunia dan di akhirat.” (Tafsir Ibnu Katsir 1/257)

Abul Wafa` bin ‘Aqil Al-Hambali rahimahullahu berkata:

“Cinta kepada kedudukan, condong kepada dunia, berbangga-bangga, bermegah-megahan dengannya, menyibukkan diri dengan kelezatan dan segala yang menjurus kepada kemasyhuran, bukan lagi melihat hujjah serta apa yang diinginkan oleh akal dan pengetahuan.

Perbuatan seperti ini menjadi sebab-sebab yang akan memalingkan dari kebenaran. Dan itu adalah sebuah kemestian.” (Al-Wadhih fi Ushulil Fiqh, 1/522)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu berkata:

“Para pencari kedudukan –walaupun dengan cara batil– akan senang dengan kalimat yang mengandung pengagungan dirinya, sekalipun dengan kebatilan. Dan dia akan marah dengan kalimat yang mencelanya, sekalipun kalimat itu adalah benar.

Adapun orang yang beriman, akan ridha terhadap kalimat yang haq walaupun terhadap dirinya, atau yang akan menggugat dirinya. Dan dia membenci kebatilan walaupun kebatilan itu mendukungnya. Atau dia akan menentang kebatilan itu karena Allah Subhanahu wa Ta’ala mencintai kebenaran, kejujuran, dan keadilan, serta membenci kalimat dusta dan kedzaliman.” (Majmu’ Fatawa 10/600)

Raihlah Masa mudamu sebelum tuamu


Pertanyaan inilah yang akan diajukan kepada setiap hamba Allah subhanahu wa ta’ala pada hari kiamat nanti.

Sebagaimana yang diberitakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam salah satu haditsnya:

لاَ تَزُوْلُ قَدَمُ ابْنِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عِنْدِ رَبِّهِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ خَمْسٍ : عَنْ عُمْرِهِ فِيْمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ شَبَابِهِ فِيْمَا أَبْلاَهُ وَمَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيْمَا أَنْفَقَهُ وَمَاذَا عَمِلَ فِيْمَا عَلِمَ.

“Tidak akan bergeser kaki anak Adam (manusia) pada hari kiamat nanti di hadapan Rabbnya sampai ditanya tentang lima perkara: umurnya untuk apa dihabiskan, masa mudanya untuk apa dihabiskan, hartanya dari mana dia dapatkan dan dibelanjakan untuk apa harta tersebut, dan sudahkah beramal terhadap ilmu yang telah ia ketahui.” (HR. At Tirmidzi no. 2340)

Sekarang cobalah mengoreksi diri kalian sendiri,

sudahkah kalian mengisi masa muda kalian untuk hal-hal yang bermanfaat yang mendatangkan keridhaan Allah subhanahu wa ta’ala?

Ataukah kalian isi masa muda kalian dengan perbuatan maksiat yang mendatangkan kemurkaan-Nya?

Kalau kalian masih saja mengisi waktu muda kalian untuk bersenang-senang dan lupa kepada Allah subhanahu wata’ala, maka jawaban apa yang bisa kalian ucapkan di hadapan Allah subhanahu wa ta’ala Sang Penguasa Hari Pembalasan?

Tidakkah kalian takut akan ancaman Allah subhanahu wa ta’ala terhadap orang yang banyak berbuat dosa dan maksiat? Padahal Allah subhanahu wa ta’ala telah mengancam pelaku kejahatan dalam firman-Nya:

مَنْ يَعْمَلْ سُوءًا يُجْزَ بِهِ وَلَا يَجِدْ لَهُ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلِيًّا وَلَا نَصِيرًا

“Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu dan ia tidak mendapat pelindung dan tidak (pula) penolong baginya selain dari Allah.” (An Nisa’: 123)

Bukanlah masa tua yang akan ditanyakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Oleh karena itu, pergunakanlah kesempatan di masa muda kalian ini untuk kebaikan.

Ingat-ingatlah selalu bahwa setiap amal yang kalian lakukan akan dipertanggungjawabkan kelak di hadapan Allah subhanahu wa ta’ala.

Jauhi Perbuatan Maksiat

Apa yang menyebabkan Adam dan Hawwa dikeluarkan dari Al Jannah (surga)? Tidak lain adalah kemaksiatan mereka berdua kepada Allah subhanahu wata’ala.

Mereka melanggar larangan Allah subhanahu wata’ala karena mendekati sebuah pohon di Al Jannah, mereka terbujuk oleh rayuan iblis yang mengajak mereka untuk bermaksiat kepada Allah subhanahu wata’ala.

Wahai para pemuda, senantiasa iblis, setan, dan bala tentaranya berupaya untuk mengajak umat manusia seluruhnya agar mereka bermaksiat kepada Allah subhanahu wa ta’ala, mereka mengajak umat manusia seluruhnya untuk menjadi temannya di neraka.

Sebagaimana yang Allah subhanahu wa ta’ala jelaskan dalam firman-Nya (yang artinya):

إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ

“Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagimu, maka jadikanlah ia musuh(mu), karena sesungguhnya setan-setan itu mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (Fathir: 6)

Setiap amalan kejelekan dan maksiat yang engkau lakukan, walaupun kecil pasti akan dicatat dan diperhitungkan di sisi Allah subhanahu wata’ala. Pasti engkau akan melihat akibat buruk dari apa yang telah engkau lakukan itu.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman (yang artinya):

وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ

“Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sekecil apapun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.” (Az Zalzalah: 8)

Setan juga menghendaki dengan kemaksiatan ini, umat manusia menjadi terpecah belah dan saling bermusuhan.

Jangan dikira bahwa ketika engkau bersama teman-temanmu melakukan kemaksiatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala, itu merupakan wujud solidaritas dan kekompakan di antara kalian.

Sekali-kali tidak, justru cepat atau lambat, teman yang engkau cintai menjadi musuh yang paling engkau benci.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

إِنَّمَا يُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُوقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ فِي الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَعَنِ الصَّلَاةِ فَهَلْ أَنْتُمْ مُنْتَهُونَ

“Sesungguhnya setan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu karena (meminum) khamr dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan shalat, maka berhentilah kamu (dari mengerjakan perbuatan itu).” (Al Maidah: 91)

Demikianlah setan menjadikan perbuatan maksiat yang dilakukan manusia sebagai sarana untuk memecah belah dan menimbulkan permusuhan di antara mereka.

Ibadah yang Benar Dibangun di atas Ilmu

Wahai para pemuda, setelah kalian mengetahui bahwa tugas utama kalian hidup di dunia ini adalah untuk beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala semata, maka sekarang ketahuilah bahwa Allah subhanahu wa ta’ala hanya menerima amalan ibadah yang dikerjakan dengan benar.

Untuk itulah wajib atas kalian untuk belajar dan menuntut ilmu agama,

mengenal Allah subhanahu wa ta’ala, mengenal Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan mengenal agama Islam ini,

mengenal mana yang halal dan mana yang haram, mana yang haq (benar) dan mana yang bathil (salah), serta mana yang sunnah dan mana yang bid’ah.

Dengan ilmu agama, kalian akan terbimbing dalam beribadah kepada Allah subhanahu wata’ala, sehingga ibadah yang kalian lakukan benar-benar diterima di sisi Allah subhanahu wa ta’ala.

Betapa banyak orang yang beramal kebajikan tetapi ternyata amalannya tidak diterima di sisi Allah subhanahu wa ta’ala, karena amalannya tidak dibangun di atas ilmu agama yang benar.

Oleh karena itu, wahai para pemuda muslim, pada kesempatan ini, kami juga menasehatkan kepada kalian untuk banyak mempelajari ilmu agama, duduk di majelis-majelis ilmu, mendengarkan Al Qur’an dan hadits serta nasehat dan penjelasan para ulama.

Jangan sibukkan diri kalian dengan hal-hal yang kurang bermanfaat bagi diri kalian, terlebih lagi hal-hal yang mendatangkan murka Allah subhanahu wa ta’ala.

Ketahuilah, menuntut ilmu agama merupakan kewajiban bagi setiap muslim, maka barangsiapa yang meninggalkannya dia akan mendapatkan dosa, dan setiap dosa pasti akan menyebabkan kecelakaan bagi pelakunya.

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ.

“Menuntut ilmu agama itu merupakan kewajiban bagi setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah no.224)

Akhir Kata

Semoga nasehat yang sedikit ini bisa memberikan manfaat yang banyak kepada kita semua.

Sesungguhnya nasehat itu merupakan perkara yang sangat penting dalam agama ini, bahkan saling memberikan nasehat merupakan salah satu sifat orang-orang yang dijauhkan dari kerugian,

sebagaimana yang Allah subhanahu wa ta’ala firmankan dalam surat Al ‘Ashr:

وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasehat-menasehati dalam kebenaran dan nasehat-menasehati supaya menetapi kesabaran.” (Al ‘Ashr: 1-3)

Memakmurkan Masjid Ciri Khas Orang-Orang Yang Beriman


Image
Ciri khas yang harus dimiliki oleh orang yang beriman adalah tunduk dan patuh memenuhi panggilan-Nya. Ciri khas ini sebagai tanda kebenaran dan kejujuran imannya kepada Allah subhanahu wata’ala.

Allah subhanahu wata’ala berfirman (artinya):

“Wahai orang-orang yang beriman penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul, bila Rasul menyeru kalian kepada sesuatu yang dapat menghidupkan hati kalian…” (Al Anfal: 24)

Allah subhanahu wata’ala telah memanggil kaum mu’minin untuk memakmurkan masjid. Siapa yang memenuhi panggilan Allah subhanahu wata’ala ini, maka Allah subhanahu wata’ala bersaksi atas kebenaran dan kejujuran iman dia kepada-Nya.

Allah subhanahu wata’ala berfirman (artinya):

“Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kiamat.” (At Taubah: 18)

Al Imam Ibnu Katsir Asy Syafi’i (bermadzhab Syafi’i) seorang ulama’ besar dan ahli tafsir berkata:

“Allah subhanahu wata’ala bersaksi atas keimanan orang-orang yang mau memakmurkan masjid.” (Al Mishbahul Munir tafsir At Taubah: 18)

Sesungguhnya termasuk syi’ar Islam terbesar adalah memakmurkan masjid-masjid dengan menegakkan shalat berjama’ah. Bila masjid itu sepi atau kosong dari menegakkan shalat berjama’ah pertanda mulai rapuh dan melemahnya kebesaran dan kemulian dakwah Islam.

Nasehat Untuk Remaja Muslim


Image
Kami persembahkan nasehat ini untuk saudara-saudara kami terkhusus para pemuda dan remaja muslim.
Mudah-mudahan nasehat ini dapat membuka mata hati mereka sehingga mereka lebih tahu tentang siapa dirinya sebenarnya, apa kewajiban yang harus mereka tunaikan sebagai seorang muslim,
Agar mereka merasa bahwa masa muda ini tidak sepantasnya untuk diisi dengan perkara yang bisa melalaikan mereka dari mengingat Allah subhanahu wata’ala sebagai penciptanya,
Agar mereka tidak terus-menerus bergelimang ke dalam kehidupan dunia yang fana dan lupa akan negeri akhirat yang kekal abadi. 

Wahai para pemuda muslim, tidakkah kalian menginginkan kehidupan yang bahagia selamanya?

Tidakkah kalian menginginkan jannah (surga) Allah subhanahu wata’ala yang luasnya seluas langit dan bumi?

Ketahuilah, jannah Allah subhanahu wa ta’ala itu diraih dengan usaha yang sungguh-sungguh dalam beramal.

Jannah itu disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa yang mereka tahu bahwa hidup di dunia ini hanyalah sementara, mereka merasa bahwa gemerlapnya kehidupan dunia ini akan menipu umat manusia dan menyeret mereka kepada kehidupan yang sengsara di negeri akhirat selamanya.

Allah subhanahu wata’ala berfirman:

وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

“Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (Ali ‘Imran: 185)

Beberapa Ahlak-ahlak Jahiliyah yang harus kita jauhi ,,,,,,,,


Berikut ini beberapa bentuk akhlak jahiliyah:

1. Menganggap bahwa menyelisihi penguasa merupakan sebuah keutamaan.
2. Berdoa kepada para wali atau orang shalih.
3. Taqlid buta.
4. Berhujjah tentang sebuah kebenaran dengan banyaknya pengikut.
5. Berhujjah tentang sebuah kebenaran dengan apa yang dilakukan para pendahulu.
6. Berlebih-lebihan dalam menyikapi orang-orang yang terpandang.
7. Keyakinan mereka bahwa apa yang dilakukan oleh para tukang sihir dan dukun adalah sebuah karamah.
8. Menamakan tauhid sebagai syirik.
9. Berdusta atas nama Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mendustakan kebenaran.
10. Fanatik di atas kebatilan yang mereka anut.
11. Menghalangi orang dari jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
12. Menyandarkan agama mereka di atas khurafat.
13. Menyembunyikan kebenaran yang telah mereka ketahui.
14. Menyombongkan diri di atas kebenaran.
15. Menyembelih untuk selain Allah Subhanahu wa Ta’ala.
16. Beribadah di sisi kuburan dan sebagainya.Image